
Saat semua mata dunia menatap ke atas, menanti-nanti penuh bimbang dan
cemas... apa yang akan terjadi pada kuncup merapi....
57 detik telah membalikkan semua pandangan mata,
hati, akal, dan pikiran dunia pada kenyataan diri manusia
yang begitu lemah dan tidak berdaya.
Keajaiban Nya tak datang dari atas sebagaimana
diduga dinanti... ia datang dari bawah menghentak
kelalaian, kesilafan, keangkuhan dan kecongkaan diri dan
bangsa... bahkan dunia.
Jutaan manusia panik... ribuan nyawa melayang,
puluhan ribu rumah merata dengan tanah, Milyaran
rupiah lenyap seketika... dalam 57 detikMu.
Ya Allah... mereka yang engkau panggil ke haribaan
Mu limpahkanlah ampunan dan kasih sayang Mu. Engkau
telah pendekkan penderitaannya di dunia ini. Tidak kau
bebankan kedzoliman manusia atas mereka lagi. Engkau
telah mengakhirkannya.
Mereka penduduk-penduduk perkampungan yang
jauh dari hingar bingar lautan dosa dan maksiat
perkotaan. Yang jauh dari hiruk pikuk samudra kerakusan
dan ketamakan materi.
Dengan cara Mu ini kekayaan yang tertimbun
mengalir pada mereka yang berhak... melaluinya
tersucikan beban dosa ketamakan penimbun. Dengan
cara Mu ini nurani yang mati engkau hidupkan, kepedulian
yang hilang Engkau kembalikan. Kebersamaan yang
lenyap Engkau pertemukan.
Engkau ajarkan kembali arti keinsyafan, arti
kesadaran, arti kebersamaan, arti kepedulian, arti kasih
sayang. Engkau ingatkan
makna kelalaian, kelengahan,
keangkuhan, kesombongan,
kecongkakan. Engkau
tunjukkan jalan kebaikan, jalan
kebenaran, jalan menuju
kepadaMu.
Engkau jadikan semua
menatap keagungan Mu,
keperkasaan Mu, juga kasih
sayang Mu.
Ya Allah... ikhlaskanlah
kami menerima qodho dan
qodar Mu. Jadikanlah semua
ini teguran yang dapat
menyadarkan, peringatan
yang dapat menginsyafkan.
Jadikanlah semua ini bentuk
lain dari kasih sayang Mu.
Tetes tetes airmata,
darah darah luka yang
mengalir pada setiap
kejadian... jadikanlah semua
itu pembersih kekotoran jiwa,
penyuci hati, penghapus dosa.
Amin.
0 komentar:
Posting Komentar