hidup sehari-hari, berapa
banyakkah masa yang dipakai
untuk mengingati Allah,
menghadap serta memohon
rahmat dan keampunan-Nya.
Cermin kembali diri sendiri...
berapa banyak amal yang telah
dilakukan. Berapa banyak masa
yang diluangkan untuk
bertaqarrub kepada Allah.
Jika dibandingkan iman di
hati dengan iman para sahabat...
terasa diri ini begitu kerdil. Tidak
beranjak sedikitpun dari sholat,
meskipun tombak tertancap di
bahu belakang. Subhanallah, iman
apakah yang mereka miliki ini?...
berlinangan air mata mereka
menahan sayu saat membaca Al-
Quran.
Pernahkah basah sepasang
mata ini sewaktu mengalunkan
kalimah suci milik Allah? Seringkah
merintih ketika berbual dengan-
Nya di dalam sholat? Kerapkali,
sholatdinodai dengan angan-
angan keduniaan. Tanpa sadar,
sholat selesai... tiada kesan yang
ditinggalkan dalam diri.
Seringkali terlupa bilangan rakaat yang telah
dikerjakan, acapkali juga tertinggal tahiyyat awal.
Lantaran itu lahirlah ungkapan, "Jika ingin mencari
barang yang hilang, maka carilah di dalam sholat.
Niscaya anda akan menemuinya."
Begitulah perumpamaan yang dibuat, di mana
ketika sholat fikiran menerawang. Ditambah pula
dengan bisikan syaitan dan hasutan nafsu. Iman yang
setipis kulit bawang langsung menjadi rapuh seperti
musnahnya sarang laba-laba ditiup sang angin.
***
Detik detik bernilai besar bagi kehidupan di dunia
ini hingga ke akherat :
• Bertadabbur membaca Al-Quran menjadi
penawar buat hati yang sakit.
• Pergi ke majlis-majlis ilmu, ia umpama taman
syurga Allah dapat menambahkan ridha Allah pada kita.
• Khusyu` ketika menghadap Allah... biarpun
semenit maupun sesaat. Siapa tahu, mungkin itulah
sholat yang terakhir.
• Bangun malam bermunajat pada Allah. Ketika
itu, tiada hijab antara hamba dan pencipta.
• Mencairkan hati untuk menangis, walaupun
hanya setitis air mata yang sekecil mata lalat.
Sesungguhnya, setitis air mata yang gugur karena
takutkan-Nya, ataupun karena menyadari kekerdilan
diri, mampu memadamkan api neraka yang membakar.
0 komentar:
Posting Komentar