Dengarkan NASIDQU FM

wahai penuntut ilmu, agar selalu mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu, dan bersungguh-sungguh mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Karena ilmu itu ibarat pohon, sedang amal adalah buahnya. Seseorang belum dianggap berilmu selama belum mengamalkan ilmunya.Janganlah kamu melakukan suatu amal selama kamu belum mengetahui ilmunya. Begitu pula jangan pernah mempelajari suatu ilmu selama kamu masih meninggalkan amal. Gabungkanlah diantara keduanya meskipun hanya sedikit bagian yang kamu peroleh

MENGAPA MEMBUAT FREE SOFTWARE?

Written By Rudianto on Jumat, 30 September 2011 | 20.52


Orang-orang yang bertemu dengan saya sering bertanya, “Apa yang
diinginkan pembuat software yang gratis?” Dengan kata lain, apa
motivasi mereka? Ini sebuah misteri.
SAYA sendiri juga sudah bertahun-tahun bertanya akan hal
ini, dan tidak merasa mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Akhirnya saya temukan titik terang. Pada kesempatan ini, saya
ingin membagikan motivasi, mulai dari yang sudah sangat
diketahui umum sampai yang tidak terpikirkan oleh banyak
orang. Fokus penjelasan adalah pembuat perangkat lunak
gratis di luar negeri.
Motivasi umum orang-orang menggratiskan produknya
adalah motivasi untuk dikenal. Dengan kata lain, menggratiskan
produk sebenarnya bagian penting dari pemasaran.
Tapi, tidak semua orang pembuat produk gratis memiliki
motivasi yang sama. Lalu apa motivasi di luar pemasaran?
Sekitar tahun 1995-1996, keberadaan Linux mulai menggema
di kalangan terbatas akademisi dan praktisi TI Indonesia. San-
gat tidak realistis bila tujuannya adalah pemasaran, at least
pemasaran dalam cara pandang yang umum. Kalaupun kita
mau mengatakan bahwa motivasinya adalah pemasaran, maka
ini merupakan pemasaran yang khusus: pemasaran dengan
target masyarakat akademisi. Tapi apakah pemasaran menjadi
satu-satunya tujuan? Rasanya tidak.
Richard Stallman sebagai pendiri FSF tidak menjadikan
pemasaran sebagai tujuan untuk menggratiskan produk.
Suatu motivasi awal dari Stallman adalah untuk mencapai
kemerdekaan, merdeka untuk membuat software, sekaligus
merdeka untuk menentukan lisensi dari software yang dibuat.
Banyak orang mudah menebak tentang motivasi promosi
produk. Tapi masih cukup banyak orang mudah menebak
tentang motivasi kemerdekaan. Lebih sedikit lagi orang yang
melihat motivasi yang akan saya paparkan berikut ini.
Mencapai kemerdekaan dengan cara yang sangat radikal,
menggratiskan produk, tanpa jaminan mendapat pemasukan
untuk kehidupan sehari-hari, harus ditunjang motivasi kuat
daripada sekadar merdeka dalam membuat software. Motivasi
apa ini?
Kesalehan. Manusia, ateis ataupun bukan, ingin merasa saleh,
ingin merasa bahwa ia berbuat kebaikan. Saya menduga bahwa
kebanyakan pembuat free software, yang tanpa motivasi pema-
saran, adalah orang-orang yang ateis. Ini karena kebanyakan
orang Eropa (dan Amerika, dalam kadar yang sedikit lebih
rendah) adalah ateis.
Bila saya ateis, sulit mendapatkan tujuan hidup, dan pem-
benaran atas tindakan saya. Jadi, saya perlu membuat “agama”
sendiri, membuat sendiri ukuran kesalehan. Anda harus melihat
tricky-nya situasi ini: bila Anda tidak percaya Tuhan, logisnya
Anda tak percaya surga dan neraka, dan logisnya Anda tidak
percaya adanya manfaat berbuat baik dan buruk.
Di sinilah terjadi masalah. Di satu sisi, jelas tidak ada lagi
manfaat berbuat baik dan buruk, tapi di sisi lain ada insting
untuk berbuat baik (dengan pemahaman masing-masing).
Solusi yang dipakai adalah menegakkan “filosofi” sendiri,
“agama” sendiri.
Motivasi umum orang-orang menggratiskan
produknya adalah untuk dikenal.
Suatu filosofi akan menjadi olok-olok, bila tidak ada
produknya. Anda menegakkan filosofi untuk bisa membungkam,
dengan ekplisit atau implisit, orang teis. Cara ampuh menegak-
kan filosofi adalah dengan membuat produk.
Bila saya produsen perangkat lunak gratis yang sangat ban-
yak, maka saya merasa punya senjata pamungkas saat bersama
dengan orang teis. Saat tidak berdebat tentang surga dan
neraka, saya akan bergaul biasa. Tapi bila debat terjadi, saya
keluarkan senjata pamungkas, “Saya sudah berbuat baik dengan
menggratiskan produk. Anda berkhotbah tentang Tuhan, tapi
Anda tidak menggratiskan produk. Mana yang lebih baik: tidak
percaya Tuhan tapi berbuat baik dengan menggratiskan produk,
atau percaya Tuhan tapi tidak menggratiskan produk”.
Kita bisa ganti kata “menggratiskan” dengan “membebas-
kan”, tapi intinya: para ateis pembuat free software menjadikan
produk mereka sebagai sarana untuk merasa baik (feeling
good). Kalau ini benar, apa kita tetap pakai free software?
Pakai saja. Terasa seperti standar ganda kalau kita memakai
produk orang-orang yang tidak sejalan? Ah, itu topik yang lain
lagi.

Sumber : BERNARIDHO I. HUTABARAT (Business Intelligence Expert)

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...