Written By Rudianto on Minggu, 11 September 2011 | 04.37
Ada
3 macam sahabat : 1. Suka maksiat, jauh dari agama dan akhlak 2. baik
tapi lalai 3. sahabat yang taat. Yang 1 jauhilah karena bahayanya tinggi
2. Bimbing dia dan arahkan agar kembali ke jalan yang benar, yg ke 3
jadikan contoh teladan dalam perjalanannya. Kawan kita cermin kita,
paradigmanya paradigma kita...Anda bisa dikenal dari melalui teman Anda :
Hati2 dan waspadalah...mereka bisa mengantarkan ke surga atau neraka!!
Seorang ulama’ berkata: “Sahabat itu ada tiga (macam); sahabat seperti
udara, sahabat seperti ubat dan sahabat seperti penyakit.”
Sahabat seperti udara
Sahabat yang amat engkau diperlukan pada setiap masa seperti udara. Jika dia terputus darimu maka engkau akan mati.
Dia adalah sahabat yang dapat mendekatkan dirimu kepada Allah,
menunjukkan ke jalan Allah dan selalu memotivasikan dirimu untuk selalu
mengingati Allah.
Oleh itu, janganlah engkau memutuskannya untuk selamanya. Kunjungilah
dia, duduk bersamanya, cintailah dan undangilah dia untuk selalu ke
tempatmu.
Sahabat seperi obat
Dia seperti obat adalah sahabat yang dapat memberikan kebaikan kepadamu.
Maka, janganlah engkau memerlukannya melainkan pada waktu yang
diperlukan. Contohnya, engkau memerlukan sahabatmu si pembuat roti
ketika engkau ingin bersarapan dengan roti. Maka, engkau memanggilnya.
Apabila engkau duduk bersamanya terus-menerus, kemudian engkau berkata:
“Aku mencintaimu kerana Allah! Dan aku selalu memerlukanmu! Dari pagi
sampai ke petang.”
Maka, ini TIDAKLAH BENAR.
Sahabat seperti ini diperlukan ketika kita memang memerlukannya tanpa harus berlama-lama dengannya.
Sahabat seperti penyakit
Sahabat seperti ini adalah sahabat yang akan menyakitimu. Dia ibarat
penyakit membawa maut yang mesti dijauhi. Dialah yang mendekatkanmu
kepada neraka dan mengarahkanmu kepada berhala di dunia dan Akhirat.
Berlindunglah kepada Allah dari sahabat seperti ini.
Sahabat seperti ini mesti engkau jauhi dan tinggalkan. Engkau mesti lari darinya seperti engkau menjauhi singa.
Seorang ‘abid berkata: “Apabila engkau melihat seorang lelaki yang
bermalas-malasan dalam takbiratul ihram bersama jamaah, maka
bersihkanlah tanganmu darinya.”
Artinya, menghindari bersahabat dengannya.
Seorang yang soleh juga berkata: “ Apabila engkau melihat manusia
bermalas-malasan melakukan kewajipan yang diperintahkan oleh Allah, maka
janganlah engkau bersahabat dengannya.”
Ja’far as-Shadiq berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, janganlah engkau
bersahabat dengan tiga orang; orang yang derhaka kepada orang tuanya
kerana Allah melaknatnya, orang yang keji kerana dia akan menyakitimu
dengan kejahatannya dan orang yang suka berbohong kerana kebohongan
mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.”
Ibnu Katsir berkata: “Ashabul Kahfi bersahabat dengan seekor anjing
padahal mereka adalah orang-orang yang soleh. Maka, Allah
menceritakannya di dalam al-Quran.”
Abu Thalib bersahabat dengan orang-orang yang hina seperti Abu Jahal, maka mereka masuk ke dalam neraka.
“Pada hari itu (Qiamat) sahabat-sahabat karib: setengahnya akan menjadi
musuh kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang
persahabatannya berdasarkan taqwa (iman dan amal soleh).
(Surah az-Zukhruf : 67)
Dipetik daripada Kitab Nasihat Untuk Orang-orang yang Terlanjur Melakukan Dosa; Dr. ‘Aidh Abdullah Al-Qarni
0 komentar:
Posting Komentar