Dengarkan NASIDQU FM

wahai penuntut ilmu, agar selalu mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu, dan bersungguh-sungguh mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Karena ilmu itu ibarat pohon, sedang amal adalah buahnya. Seseorang belum dianggap berilmu selama belum mengamalkan ilmunya.Janganlah kamu melakukan suatu amal selama kamu belum mengetahui ilmunya. Begitu pula jangan pernah mempelajari suatu ilmu selama kamu masih meninggalkan amal. Gabungkanlah diantara keduanya meskipun hanya sedikit bagian yang kamu peroleh

Akhi dan Ukhti, Jinakkan Nafsumu

Written By Rudianto on Jumat, 22 Juni 2012 | 04.53





Seusai kajian di sebuah kampus ternama di Jawa
Tengah, seorang remaja berumur 20 tahun-an
mendekat
ke saya. "Saya, Fulan, dari fakultas kedokteran." Katanya memperkenalkan diri sambil menjabat tangan saya.


"Ma'af
minta
waktu sebentar."
Ujarnya.
"Silahkan,"
sambut saya.
Begini ustadz, di dunia
aktifis kampus sedang demam­
demamnya
virus merah jambu antar aktifis
putra dan putri." la mulai bercerita pernak­pernik
dakwah
kampus yang cukup lama ia berkecimpung di dalamnya. Kasus virus merah jambu beragam bentuknya, mulaisms ria, sms sapa menyapa,
'kaefa
haluk ukhti,' sampai berkedok
ibadah, 'sms untuk tahajjud.'


Dan daerah
garap
virus ini merambah
ke
daerah-daerah on line, seperti
mengomentari
status di FB mentwitkan nasehat lewat twitter, tak lupa seorang akh
atau
ukh tertentu ditandai.


Cerita akh aktifis kampus
ini
mengingatkan saya pada suatu kejadian yang sangat menyedihkan beberapa bulan silam. Saat itu seseorang yang
memperkenalkan
diri dengan Abu Fulan meminta waktu untuk curhat.


Ceritanya, sudah
tiga
hari istrinya dibawalari oleh seorang akh yang katanya aktifis juga, nas'alullah al-'afwa wal al-'afiyah.Beberapa lama kemudian, ia menangis
histeris, saya
mendengarkan dengan iba bahkan sempat meneteskan air mata mendengar kisah dan tangisan seorang
Abu
Fulan yang sudah memilki 3 anak dari istrinya
tersebut.


Setelah sekian lama berdialog dengan suami yang malang ini, ternyata kasus tersebut berawal dari sms, dan curhatnya istri tentang kondisinya di
facebook, lalu beberapa akh
menanggapi.


"Ada yang lebih mengerikan lagi," kata seorang
da'i
kepada
kami
saat
kuliah
dulu. Entah bagaimana mulanya, saat itu tiba-tiba obrolan ringan bersama
ikhwan-ikhwan yang
rata-rata perjaka itu mengarah pada
kasus­-
kasus cinta terlarang di kalangan ikhwan­akhwat.


Keduanya merupakan guru di sebuah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an, bukan Tempat Pembuangan Akhir), dan statusnya sama; sudah berkeluarga. Karena
terlalu longgar dalam berinteraksi, apalagi
yang mengajar TPA hanya mereka jadi mungkin bisa dikatakan kondisi keduanya 'semi' kholwat. Dan terjadilah peristiwa yang layak mendapatkan
hukuman rajam.


***


Kisah-kisah di
atas setidaknya membuat
kita menyadari, bahwa seseorang
yang
sudah 'iltizam' dengan
tampilan
syar'ie pun tidak lepas dari godaan syahwat maupun setan. Bahwa berpenampilan syar'ie, pernahtershibghoh
dengan tsaqofah islamiyah,
plus fasih mengucapkan , akhi, ukhti, ikhwan, akwhat , bukan jaminan selamat dari incaran syahwat dan setan.
Manusia yang ma'shum
hanyalah para nabi dan rasul. jadi, "Ustadz pun manusia,"ada benarnya.


Mungkin inilah yang melatarbelakangi syaikh DR. Najih Ibrahim
tergerak untuk
menulis sebuah risalahkhusus ditujukan kepada 'Amilil Islam —aktifis islam-.
Dalam
bukunya itu, doktor yang
malang-melintang
dalam dunia pergerakan Islam ini menegaskanbahwa musuh yang sangat berbahaya bagiaktifis muslim bukan oragm kafir, tetapi nafsu maupun syahwat.


"Sesungguhnya          nafsu senantiasa menyuruh
kepada keburukan. Kecuali nafsu
yang
dirahmati Rabb-ku."
(Yusuf: 53)


Boleh dikata, 100% isi buku salah satu
petinggi
lama'ah Islamiyah Mesir ini adalah arahan-arahan rohani bagi para
penggiat dakwah.
Mulai dari
penyadaran akan makna
isytiro'u nafs —menjual jiwa
dan raga kepada
Allah, meridhoi ketentuanNya, qiyamullail, birrul walidain.


Beliau mewanti-wanti untuk tidak
maksiat.
Karena, kata Syaikh Najih, dampak maksiat bukan sekedar kepada pribadi pelaku. Tetapi, keluarga, anak, istri bahkan jama'ah maupun organisasi tempat ia menjalani amal islami, akan terkena dampaknya.


Sejatinya, tidak
ada yang salah dengan
nasehat menasehati, apalagi dalam kebaikan. Namun akan menjadi perangkap setan jika nasehat-menasehatinya salah sasaran, waktunya tidak tepat, apalagi terselip
perasaan
sentosa saat mengirim sms nasehat ke
ukhti
atau akhi tertentu.


Curhat adalah sesuatu yang wajar bagi siapapun yang hendak mencari solusi hidup. Hanya, akan menjadi tidak wajar jika masalah yang dicurhati berupa aurat-aurat
keluarga
yang seharusnya
ditutupi, apalagi jika masalah
tersebut —ma'af- tentang ketidak laki-lakian sang suami, atau
sebaliknya.


Kenapa tidak curhat
ke ustad- ustadzah atau
murobbi-murobbiyah, atau mungkin ke
orang
tua, bukankah mereka
sangat berpengalaman
dalam membina rumah tangga?.


Mengajar al-Qur'an adalah
ibadah,
bahkan dalam sebuah hadits riwayat
Ibnu
Majah, RasuIullah menyanjung orang yang mengajarkan al-Qur'an, bahwa mereka
adalah
manusia yang terbaik.
Tetapi,
kebaikan ini akan berubah menjadi sumbu kentaksiatan jika salah dipahami, salah tempat, salah patner atau kondisinya
tidak
mendukung.


lbadah Kepada Syahwat


"ubudiyatusy syahwat,' judul buku kat ya syaikh DR. Abdul Aziz al-Lathif, terjenialian leterleknya, "beribadah kepada syahwat Pertama kali membaca buku ini, saya bertanya-tanya,
kira-kira seperti
apa


beribadah kepada
setan.


Pakar akidah yang pernah menulis kaiya fenomenalnya "nawaqidhul iman' pembatal pembatal 
keimanan” tersebut menjelaskkan.


selain Allah SWT, makhluk pun
berpotensi
menjadi sesembahan yang disembah oleh manusia. Baik yang nampak maupun yang tidak nampak.
Berbahayanya
jika yang disembah tidak
berwujud, seperti hawa nafsu,
akal dan sejenisnya.


Kapan nafsu disembah? Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan,
"Barangsiapa
yang mencintai
sesuatu dan
mentaatinya. Mencintai dan
membenci
karena sesuatu tersebut. Maka ia telah menjadikannya sebagai sesembahannya. Seperti, siapa saja yang mencintai dan membeci karena Allah, berloyalitas dan bermusuhan karena Allah, maka ia telah
menuhankan Allah
34 dengan sebenarnya.
Demikian
juga barangsiapa yang mencintai
dan membenci
karena hawa nafsunya,
berloyalitas
dan bermusuhan
karena
hawa nafsu, maka saat itu ia telah mengangkat hawa nafsunya menjadi
sesembahannya."
Jami'ul 'Ulum wal Hikam,
1/524)


Oleh Karena itu standar iltizamnya seseorang keapada Islam, bukan
sekedar
ditandai dengan memanjangkan jenggot dan meminyakinya, baju koko dan celana di atas mata kaki tidak
pernah lepas
darinya. Bukan dengan lebarnya jilbab yang dipakai.
Bukan
pula dengan fasihnya mengucapkan
akhi
maupun ukti, ikhwan maupun akhwat.


Namun iltizam yang
hakiki adalah saat
hawa nafsu dan seluruh
perasaan tunduk
dibawah aturan syar'ie lahir-bathin. Sang Baginda
Nabi
SAW bersabda,


"Seseorang diantara kalian
tidak beriman
sehingga hawa nafsunya
(tunduk) mengikuti
apa
yang aku bawa."
(Syarh Sunnah, al­Baghawi)


Selainbelajar, bergaul dengan orang­orang shaleh dan
memperbanyak
ibadah, kiranya do'a yang diajarkan oleh rasulullah SAW dibawah ini layak
diulang-ulang
oleh setiap aktifis
islam dalam sujudnya, agar

Allah SWT


menganugerahinya jiwa dan nafsu yang selalu dibimbing oleh Allah SWT.


 “Ya Allah, sungguhnya daku memohon Dikau, petuniuk, ketakwaan,
kesucian dan
kecukupan "(HR. Muslim).

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...