
Pasti kamu gak asing lagi melihat iklan salah satu Provider GSM berikut ini:
Seorang siswi sekolah menengah dengan segala cara berusaha mencari perhatian kepada seorang yang digambarkan adalah pangeran yang memakai mahkota, berkuda putih dan dikawal oleh beberapa orang pengawal. Siswi tersebut akhirnya menemukan jalan untuk mengambil perhatian sang pangerannya tersebut melalui layanan-layanan gratis yang diberikan oleh Provider GSM itu.
Eh, kita bukan mau bicara tentang Jasa Provider tersebut lho. Saya coba menyoroti isi daripada iklan tersebut. Yang menurut saya seperti sudah menjadi mindset dikalangan remaja putri kita, bahkan para aktifis dakwah sekalipun (gak semua juga sih), bahwa kadang kita sering menggunakan istilah ‘Pangeran’ ketika mengharap-harap datangnya sang pujaan hati (jodoh). Mungkin klo gambaran pangerannya seperti Pangeran Diponegoro atau Pangeran Jayakarta (Fatahillah), kayaknya lebih asyik deh. Karena beliau-beliau ini adalah para mujahid yang berjuang untuk mengusir penjajah kafir dari bumi nusantara ini hingga titik darah terakhir.
Tapi itulah kita, mungkin sejak kecil sudah terjejali dengan kisah-kisah tentang pangeran ala barat seperti kisahnya Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty, dll. Di mana dalam kisah-kisah tersebut selalu digambarkan sosok pangeran yang tampan, klimis, berkuda putih, pakaian gemerlap, bergelimang kemewahan dan dengan segala pernak-pernik seorang pangeran kerajaan. Berbaik sangka sajalah terhadap mereka yang masih menggunakan istilah pangeran ini. Saya yakin mereka tidak bermaksud bahwa pangeran yang mereka nanti adalah seperti yang saya gambarkan barusan. Terkadang mereka berkata (atau ngeless??), “siapapun dia, maka dia adalah pangeranku”. Tapi coba jujur deh, ketika mengatakan ‘Pangeran’ apa benar yang terlintas dalam benak kamu itu adalah seorang yang sederhana, berjenggot tipis, jidatnya terlihat bekas sujud, berpakaian sederhana tapi rapi, kadang hanya mengendarai sepeda motor butut?? Hayoo, ngaku aja deh pasti bukan itu kan yang tergambar dalam benak kamu.
Wajar sih jika itu yang tergambar, manusiawi banget. Kita gak perlu menyalahkan mereka jika seperti itu. Toh itu adalah hasil produk dari sebuah kebudayaan yang notabene bukan kebudayaan negeri sendiri. Sesuatu yang sudah tertanam dalam memory di otak selama bertahun-tahun bahkan sejak kecil tentu saja bukan hal yang mudah untuk dirubah. Seperti merk dagang minuman mineral Aqua yang apabila orang membeli minuman mineral merk apapun, maka mereka akan menyebutnya dengan merk dagang tersebut.
Begitulah, memang kita suka latah dengan tren-tren yang ada. Ketika K-Pop sedang ngetren dengan G-band atau B-band nya, maka bermunculanlah Girl band dan Boy band yang beranggotakan remaja putra/putri yang kadang jumlah personal satu groupnya bisa satu kampung !! (hehe.. sirik aje luh).
Semua ini gak lepas dari kebiasaan juga, baik dari orang-orang tua kita ataupun kadang justru kita sendiri terhadap anak-anak kita. Jadi semacam lingkaran setan yang sulit untuk diputus. Walaupun berat tapi bukannya tidak mungkin untuk merubah sesuatu dari yang sekedar following menjadi follower (pinjem istilah twitter).
Kembali ke pangeran, ketika proyeksi dari seorang pangeran tersebut sudah menunjukkan gejala-gejala yang tidak Islami dengan sekedar berpenampilan mewah tapi lupa orang dibawah, klimis tapi tidak agamis, tampan tapi arogan, berkuda putih tapi selalu pamrih, selalu dikawal tapi sholat ga pernah diawal. Nah gimana kalo kita ganti istilah pangeran tersebut dengan istilah yang lebih Islami? Bisa dimulai dengan ‘Mujahidku’, ‘Imamku’, yang jelas para pria yang tak sekedar berpenampilan rapi tapi juga Islami, berjenggot tipis (klo ada jenggotnya) dan agamis, wajah biasa-biasa aja dan tidak sombong (syukur-syukur dapet yang guanteng), berkendaraan sederhana, dan rajin sholat.
Gak semudah itu kali ya, pasti pengennya seorang pangeran tapi dengan kualifikasi seorang mujahid. Silahkan aja deh itu hak kamu, yang jelas kita bisa kok memulainya dengan rajin-rajin membaca tentang sejarah Islam atau rajin mengunjungi situs-situs yang Islami atau setidaknya tahu kapan waktunya mesti nonton acara-acara yang bermanfaat di TV. Tapi klo kita masih demennya nonton atau nyari-nyari info tentang SU-JU, JYJ, SHINEE, SNSD, dll, kira-kira masih bisa nggak ya kita mengubah pemakaian istilah pangeran tersebut dengan yang ‘lebih’ Islami?
0 komentar:
Posting Komentar